”Tak hanya itu, isu pendekatan keamanan turut menjadi sorotan. Mahasiswa menilai perlu adanya evaluasi terhadap kebijakan yang selama ini diterapkan, khususnya yang berdampak langsung terhadap kondisi sosial masyarakat. Mereka mendorong pemerintah agar lebih mengedepankan dialog, pendekatan kemanusiaan, serta keberpihakan kepada masyarakat lokal.
Aspek investasi dan pembangunan juga tak luput dari perhatian. Mahasiswa meminta agar setiap kebijakan yang berkaitan dengan investasi di Papua mempertimbangkan dampak lingkungan, sosial, dan keberlanjutan. Mereka menegaskan pentingnya perlindungan terhadap hak-hak masyarakat adat agar tidak terpinggirkan dalam proses pembangunan.
Menanggapi berbagai masukan tersebut, DPRD Bengkulu menegaskan komitmennya untuk menjadi jembatan aspirasi antara mahasiswa dan pemerintah pusat. Seluruh poin yang disampaikan akan dihimpun secara sistematis untuk kemudian diteruskan kepada pihak terkait sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan kebijakan nasional.
Lebih jauh, DPRD juga mendorong pentingnya keterbukaan informasi publik serta penguatan dialog sebagai pendekatan utama dalam menyelesaikan persoalan Papua. Menurut Edwar Samsi, isu Papua bukan hanya persoalan daerah, melainkan persoalan nasional yang membutuhkan perhatian bersama dan solusi yang komprehensif.
Melalui hearing ini, DPRD Provinsi Bengkulu menegaskan perannya dalam menjalankan fungsi representasi dan pengawasan secara aktif. Forum ini diharapkan menjadi langkah awal dalam mendorong lahirnya kebijakan yang lebih responsif dan berkeadilan, sekaligus memperkuat upaya menciptakan perdamaian serta perlindungan hak asasi manusia di Papua, “Demikian.(Adv)
Komentar