Ket Foto: Asisten I Setda Pemprov Bengkulu Hadiri Pengukuhan Pengurus KBRTSB, di Hotel Adeeva kawasan Obyek Wisata Pantai Panjang, Kota Bengkulu.
Bengkulu, Pusaranupdate.com – Niniak Mamak Rang Tanjuang H. Muhammad Saris Zen Rajo Intan resmi melantik Marwandi Rajo Intan ST sebagai ketua dan mengukuhkan H Syafril Rusli Malin Sutan, Rusdi Tanjung St Rajo Endah dan Chairunnas St. Sara Endah sebagai penghulu ikatan Keluarga Besar Rang Tanjuang Serumpun Bengkulu (KBRTSB) masa bhakti 2024-2029 di Hotel Adeeva kawasan Obyek Wisata Pantai Panjang, Kota Bengkulu, Rabu (17/7/2024).
Acara pengukuhan penghulu dan pelantikan pengurus KBRTSB di hadiri gubernur Bengkulu yang diwakili Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Provinsi Bengkulu Drs. Khairil Anwar, M.Si, perwakilan Sembilan jurai dan keluarga besar suku tanjung yang ada di Kota Bengkulu.
Pelantikan KBRTSB dilakukan oleh niniak mamak suku tanjung H. Muhammad Saris Zen Rajo Intan mewakili ketua Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Sumbar, Hendri Septa karena beliau berhalangan hadir.
Ketua Panitia pengukuhan penghulu dan pelantikan ketua KBRTSB, Mayor Inf. Akhirudin Rajo Angek menjelaskan pada awalnya yang akan mengukuhkan penghulu dan pelantikan Ketua KBRTSB ini adalah Ketua LKAAM namun beliau berhalangan hadir dan menyarankan cukup dari niniak mamak suku tanjung yang ada di Bengkulu karena sifatnya kesukuan.
Pada kesempatan itu, Akhirudin menjelaskan perkumpulan suku tanjung yang ada di Provinsi Bengkulu sudah berjalan kurang lebih 2 tahun namun baru sekaranglah dibentuk kepengurusannya.
“Kita keluarga Suku Tanjung sudah rutin mengadakan pertemuan kurang lebih dua tahun namun baru sekaranglah di bentuk kepengurusannya,” ujarnya.
Ia menambahkan terbentuknya KBRTSB ini berdasarkan pemikiran niniak mamak yang mana dari selama ini mengadakan pertemuan maka dirasa perlu wadah atau payung hukum untuk menaungi anak kemanakan dari suku tanjung kedepannya. Berdasarkan dari ide-ide itulah maka malam ini rang tanjung yang ada di Bengkulu sudah memiliki wadah dan terhimpun dalam KBRTSB.
Untuk itu Akhirudin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada donatur dan niniak mamak yang sudah menyumbangkan tenaga dan pemikiran serta dana sehingga acara ini bisa terlaksana.
Penghulu KBRTSB, H Syafril Rusli Malin Sutan dalam sambutannya menjelaskan dengan dibentuknya KBRTSB ini diharapkan seluruh anak kamanakan suku tanjuang yang ada di Bengkulu dapat bersatu sesuai dengan tema “Ba Budi Babahaso, Jago Raso Jo Pareso, Taguah sa Ganggam Badunsanak, Paliharo Adaik jo Budaya, Dima Bumi Dipijak Disinan Langik Dijunjuang”.
H Syaf menjelaskan Ba Budi Babaso artinya anak kamanakan suku tanjuang harus tau kato nan ampek tau kato malereng, kato mandaki, kato mandata dan kato menurun.
Kato malereng biasanya digunakan ketika hendak berbicara dengan besan, semenda, ipar atau dengan orang yang kurang akrab, kato mandaki adalah tata cara berbicara dengan orang yang lebih tua atau niniak mamak, kato mendatar yakni berbicara dengan kawan sepermainan sedangkan kata menurun yakni berbicara dengan adik, anak kemenakan atau orang yang lebih kecil dari kita.
Sedangkan Raso Jo Pareso bukan berarti merasakan pengecap lidah, tetapi lebih kepada perasaan dan memeriksa apakah yang kita sampaikan menyakiti hati dari pihak lain ataupun orang lain.
Taguah sa Ganggam Badunsanak artinya kita dapat memegang teguh rasa persaudaraan, menjaga dan melindungi, pelihara adat dan budaya walaupun berada diranah Rantau, Dima Bumi Dipijak Disinan Langik Dijunjuang.
Untuk itu, H Syaf berharap dengan dikukuhkannya penghulu dan ketua KBRTSB ini ada tempat bagi anak kemenakan untuk mengadu ibarat pepatah pai tampek batanyo, pulang tambek babarito yang artinya ada tempat untuk bertanya dan pulang membawa solusi yang bisa dikabarkan kepada seluruh masyarakat terkhususnya suku tanjung.
Ketua KBRTSB, Marwandi Rajo Intan ST dalam sambutannya menjelaskan terbentuknya KBRTSB ini bukan merupakan saingan bagi organisasi-organisasi minang lainnya yang ada di Provinsi Bengkulu, namun lebih kepada rasa badunsanak dan menjalin silaturahmi sesama suku tanjung yang ada di Provinsi Bengkulu.
Selama ini kita diranah rantau banyak yang tidak saling kenal sehingga tidak ada lagi rasa bakampuang bahalaman, baranak-bakamanakan, bakaum-bakaluargo, bahindu-babuah paruik, basuku-basako, bapusako-basangsako, bakorong-bakampuang.
Sementara itu Asisten I, Pemprov Bengkulu, Drs. Khairil Anwar, M.Si. menyampaikan jika pemerintah sangat mendukung adanya organisasi KBRTSB tersebut karena telah nyata membantu pembangunan provinsi Bengkulu.
“Bapak gubernur Bengkulu, Rohidin Mersyah sangat mendukung organisasi kedaerahan semacam KBRTSB ini karena Masyarakat minang memang sudah terbukti membantu pembangunan di provinsi Bengkulu yang kita cintai ini,” katanya.
Ia menambahkan kami pemerintah daerah merasa bangga dan berbahagia karena, satu lagi organisasi berbasis kedaerahan tumbuh di Bengkulu, selama ini pemerintah dalam menjalankan roda pemerintahan dan melaksanakan pembangunan tidak bisa sendirian tapi memerlukan bantuan dari semua pihak.
“Kita sadar komonitas minang yang ada di Bengkulu sangat besar dan berdasarkan hitung-hitung perekonomian di Bengkulu ini terutama perdagangan hampir 50 persen dikuasai orang minang, kalau kita berkaca pada krisis moneter tahun 1998 dan orang cina angkat kaki dari Indonesia membuat roda perekonomian kita sempat hancur”.
Coba bayangkan jika orang minang angkat kaki dari Bengkulu mungkin Provinsi Bengkulu bisa kolep karena 50 persen roda perekonomian di Bengkulu dipegang oleh orang minang artinya keberadaan orang minang termasuk suku-suku yang ada didalamnya merupakan suatu kekuatan besar untuk membangun daerah ini.
Pada kesempatan itu Khairil Anwar meminta agar KBRTSB untuk segera melengkapi berkasnya dan melaporkan ke Kesbangpolinmas sehinggga KBRTSB terdata di pemerintahan dan nantinya jika pemerintah daerah mengadakan event-event bisa diikutsertakan,”terangnya.(Red)











Komentar