oleh

Program Merdekakan Ijazah, Lahir Setelah Walikota Helmi Melihat Kebaikan Hati Ustad Syamlan

Bengkulu, Pusaranupdate.com – PROGRAM Pemerintah Kota Bengkulu Memerdekakan Ijazah sudah menjadi viral. Walikota Bengkulu Helmi Hasan membeberkan cerita awal mula tercetus ide membuat program Memerdekakan Ijazah ini. Siapa sangka, program ini lahir karena Helmi melihat kebaikan hati dari seorang pimpinan yayasan sekolah Islam di Kota Bengkulu, H.M Syamlan.

Eki Kurnia – Kota Bengkulu

Tim Media Center Kominfosan Kota Bengkulu Kamis (2/9/2021) meyambangi pondok pesantren (ponpes) Ma’had Rabbani milik Ustad Syamlan di Kelurahan Bentiring. Setelah menyambut dengan ramah, ia mempersilahkan tim masuk ke ruang kerjanya dan tim memulai obrolan santai hingga candaan ringan.

Masuk ke inti tujuan dari kedatangan tim, Syamlan langsung tersenyum. Ia mengerti dan bersedia meceritakan tentang program Memerdekakan Ijazah yang berdasarkan cerita walikota berawal dari sekolah Islam Ma’had Rabbani.

Ia membenarkan apa yang disampaikan oleh Walikota Bengkulu bahwa awal mulanya walikota ingin membantu salah satu orangtua dari santri atau siswa di yayasan Ma’had Rabbani yang punya tunggakan infaq (kalau di sekoah negeri SPP,red) sebesar hampir Rp 38 juta.

Dimana orangtua siswa tersebut menghubungi walikota dan minta tolong karena anaknya mau mengambil ijazah namun masih ada tunggakan sebesar Rp 38 juta di yayasan Ma’had Rabbani. Kemudian walikota langsung menghubungi Ustad Syamlan minta agar orangtua siswa yang diketahui sudah berstatus janda itu dibantu.

Saat itu juga Ustad Syamlan menyatakan siap membantu. Bahkan berkata akan menggratiskan tunggakan infaq dari orangtua siswa. Namun walikota tidak minta digratiskan karena walikota tahu bahwa yayasan Ma’had Rabbani adalah sekolah swasta yang tentu juga membutuhkan biaya.

Walikota kemudian membantu biaya Rp 3 juta untuk yayasan Ma’had Rabbani dengan mengutus staf nya mengantarkan uang tersebut sekaligus mengambil ijazah untuk siswa yang bersangkutan.

Mengenai persoalan siswa tersebut, Syamlan menjelaskan bukan pihaknya menahan ijazah. Namun memang saat itu ijazah yang bersangkutan belum keluar. Kebetulan orangtua siswa memang punya tunggakan infaq hampir Rp 38 juta. Dia sendiri baru tahu kalau orangtua siswa yang bersangkutan sudah berstatus janda.

Kalau sejak awal ia tahu orangtua siswa tersebut tidak mampu dan sudah berstatus janda, ia pasti akan membantu tanpa diminta oleh walikota. Namun bagaimana pun, ia juga apresiasi dan terima kasih kepada walikota Bengkulu yang sudah membantu pihaknya walaupun hanya Rp 3 juta.

Namun demikian, ini satu hal yang luar biasa karena tunggakan sebesar Rp 38 juta hanya ditawar Rp 3 juta oleh walikota Bengkulu dan itu langsung disetujui oleh Ustad Syamlan. Akhirnya Ijazah yang sudah keluar langsung diberikan kepada siswa yang bersangkutan.

Pertanyaannya apakah pihak yayasan tidak rugi? Hal ini dijawab oleh Ustad Syamlan. Ia mengatakan bahwa baik di yayasan maupun ponpes Ma’had Rabbani sebenarnya juga mendapat bantuan dari donatur-donatur Muslimin selain dari infaq orangtua santri/siswa.

“Lembaga kita lembaga pendidikan sekolah Islam terpadu mulai dari TK sampai dengan SMA. Seperti di sini, anak-anak mondok di tempat ini. Memang lembaga ini swasta dan tentu saja guru itu perlu dibayar gajinya, honornya, dan juga sarana prasarana pembangunan di sini membutuhkan biaya. Salah satu sumber dana kita selain dari wali murid dan wali santri Alhamdulillah ada juga dari donatur,” cerita Syamlan.

Memang, kata Syamlan dalam perjalanannya ada wali siswa atau wali santri yang tidak lancar pembayaran infaqnya. Ada karena persoalan lain seperti misalnya sedang dapat musibah kebakaran, ditipu orang, atau terdampak covid-19 sehingga kurang lancar infaq nya.

“Tapi Alhamdulillah disamping itu ada juga donatur-donatur kaum Muslimin yang dermawan. Meskipun anaknya tidak sekolah di sini tapi mereka membantu. Karena mereka tahu ini pendidikan Islam,” kata Syamlan.

Sekolah atau yayasan ini dibangun, kata Syamlan juga dalam rangka berjuang untuk membantu pemerintah mencerdaskan bangsa dan mendidik akhlak moral generasi.

“Jadi pada prinsipnya Insya Allah kita tidak akan menahan-nahan ijazah kalau alasannya tepat dan benar. Kita cuma butuh klarifikasi dari orgtuanya. Kita tidak ingin anak kita itu tidak bisa melanjutkan sekolah. Andaikan karena persoalan kekurangan biaya infaq itu kan bukan kesalahan anak, tapi urusan dengan orgtuanya. Khusus anak yatim di sini, sejak awal ada donaturnya. Kalau tidak ada donaturnya Insya Allah kami yang akan mencarikan. Kami punya komitmen tidak akan menahan-nahan ijazah,” jelas Syamlan.

Syamlan berterima kasih juga kepada Pemkot Bengkulu yang Selama ini juga selalu memberikan dukungan terkhusus kepada yayasan Ma’had Rabbani. Mulai dari kelancaran semua urusan perizinan, kehadiran dan support walikota dan wawali saat menghadiri acara wisuda santri, meresmikan bangunan, dan lainnya.

Pada kesempatan itu, tim MC juga menyampaikan pesan walikota kepada Ustad Syamlan mengenai apa permintaan Ustad Syamlan yang bisa dibantu oleh Pemkot Bengkulu. Ini sebagai ucapan terima kasih walikota karena Ustad Syamlan sudah berbaik hati membantu pemerintah dan membantu siswa mendapatkan ijazahnya.

Menjawab hal ini, Syamlan tersenyum. “Kalau pak walikota berkenan datang ke sini silahkan, bisa dilihat sendiri mungkin apa-apa yang bisa dia bantu. Kami juga tidak ingin terlalu membebani pemerintah. Yang penting kami disupport dan komunikasi tetap terjalin dengan baik,” ujarnya.

Diwawancara terpisah, Helmi Hasan sangat berterima kasih dengan Ustad Syamlan yang tanpa pikir panjang dan banyak pertimbangan langsung meng-iyakan permintaan dirinya soal ijazah siswa yang menunggak Rp 38 juta. Walau pun Helmi hanya membantu memberikan uang Rp 3 juta dari total Rp 38 juta.

Namun Helmi sadar bahwa sekolah swasta tentu memerlukan biaya juga dan mereka tidak dibiayai oleh negara.

“Ya tentu ada hal yang mungkin terganggu dalam program di sekolahnya karena permintaan kita terkait ijazah. Maka saya mau tahu apa masalahnya. Misalnya masalah gaji guru honor dikurangi, kita akan bantu. Pak Syamlan harus dicontoh oleh kepala sekolah yang lain, terutama yayasan Islam Terpadu. Saya mengajak masyarakat ayo sekolah saja di tempat pak Syamlan. Bagi sekolah-sekolah IT yang nggak punya hati mending tutup saja. Pindah saja ke sekolah pak Syamlan itu. Sekolah di sana saja karena yang punya sekolah punya hati,” tutup Helmi.(RL)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed