Kota Bengkulu,Pusaranupdate.com – Pemkot Bengkulu menggelar diseminasi hasil audit kasus stunting yang berlangsung di ruang Hidayah I, kantor Walikota, Kamis (20/6).
Kepala BPKAD Kota Bengkulu Yudi Susanda sangat mengapresiasi Program Pemkot dalam mencegah Stunting di kota Bengkulu.
Hadir dalam acara ini para pakar yang berkaitan dengan stunting, baik dari spesialis dokter anak, BKKBN, beberapa kecamatan se-kota, dan beberapa pihak lainnya.
Dalam forum tersebut, dipaparkan hasil audit kasus stunting di Kota Bengkulu. Kemudian, mereka berdiskusi tentang cara dan strategi untuk terus menurunkan kasus stunting, karena ke depan Pemkot terus menargetkan Kota Bengkulu menuju zero stunting.
Dipimpin Staf Ahli bidang Pemerintahan, Hukum dan Politik Lia Kamalia didampingi Kepala DP3AP2KB Dewi Dharma dan Satgas Stunting mengajak semua pihak benar-benar serius menangani stunting diberbagai kecamatan.
“Target kita Kota Bengkulu zero stunting. Oleh karena itu, kita harus saling bahu-membahu mewujudkan semua itu,” ujar Lia.
Ia juga berharap seluruh upaya penanganan stunting di Kota Bengkulu berjalan lancar sehingga target zero stunting terealisasi.
“Ini juga menunjukkan bahwa Kota Bengkulu memiliki kepedulian yang sangat tinggi terhadap pencegahan ataupun penurunan stunting,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala DP3AP2KB Dewi Dharma mengatakan, AKS yang dilakukan hari ini merupakan tindaklanjut mini lokakarya di 9 Kecamatan.
Hal ini dilakukan untuk mengetahui apakah ditemukan adanya anak-anak terindikasi stunting atau tidak.
“Kalau untuk kasus tidak ada, tapi terindikasi. Makanya kita ada tim pakar untuk menindaklanjuti melalui audit kasus stunting,” ujar Dewi.
Dikesempatan ini, Dewi berharap seluruh pihak dapat bersinergi demi mewujudkan Kota Bengkulu zero stunting.
“Harapan kita ke depan masyarakat membantu agar stunting di Kota Bengkulu tidak naik. Apalagi kita sudah menjadi pilot projek se-Provinsi Bengkulu karena angka stunting kita dua tahun berturut di bawah angka nasional,” jelasnya.

Diketahui, Prevalensi stunting di Kota Bengkulu turun tajam, dari 12,9 persen di 2022, menjadi 6,7 persen turun 6,2 persen di 2023.
Selain itu, berdasarkan pantauan tim satgas stunting, masyarakat masih minim kepeduliannya dengan kesehatan dan kebersihan lingkungan sekitar yang juga mengakibatkan masalah stunting.
Pasalnya sanitasi lingkungan ini secara tak langsung mempengaruhi gizi balita. Sanitasi yang buruk dapat menimbulkan penyakit infeksi pada balita seperti diare dan kecacingan yang dapat menganggu proses pencernaan dalam proses penyerapan nutrisi, jika kondisi ini terjadi dalam waktu yang lama dapat mengakibatkan masalah stunting. (Adv)











Komentar